Senin, 02 Maret 2009

Curhatan Tony Q Rastafara !!

WAWANCARA

Anak kampung yang berontak dari pabrik kaleng.
Memilih hidup dan bermusik di jalanan. Walau digasak dan dicemooh orang, tetap memilih reggae sebagai jalan hidupnya. Lagu-lagunya direkam Putumayo label tersohor dunia untuk world music. Sohor di ajang festival di Amerika tetapi selalu ditolak Kedutaan Amerika di Jakarta ketika mengurus visa.
Inilah reggaeman kita yang selalu bersahaja

rasta-tony.jpg

SELALU ada berita baru tentang reggae dari Tony Q Rastafara. Selalu ada album atau master musik reggae di dalam tas kecilnya yang akan diperlihatkan kepada orang yang tertarik mencari tahu apa yang kini dikerjakannya. Atau sebuah buku, Bob Marley: Rasta, Reggae, Revolusi yang agak lusuh karena sering dibaca dari tangan ke tangan, dibahasnya bersama beberapa kawan di Warung Apresiasi (Wapres), Bulungan kebetulan dia memberi komentar singkat di sampul belakang. Tony Q, memang reggaeman yang bersemangat!

Kadang dia menghilang dari Jakarta beberapa bulan untuk melakukan konser di beberapa kota di Jawa dan Bali. Biasanya digelar di kampus-kampus, atau bar dan cafe. Kadang langkahnya panjang hingga mancanegara, “Aku mau berangkat ke Aus, nih!” katanya lewat telepon seluler, suatu kali. Maksudnya pergi ke Australia untuk melakukan mixing di Sound Warp untuk album barunya, Anak Kampung, yang akan dirilis dalam waktu dekat ini.

Album Anak Kampung, melibatkan Fully Fullwood, pionir reggae, seorang bassist yang cukup penting perannya dalam perkembangan musik reggae di Jamaika pada dekade 70an.

Selama tigapuluh tahun karir musiknya, Fullwood pernah bekerjasama dengan Bob Marley, Peter Tosh, Black Uhuru, Gregory Isaacs hingga The Mighty Diamondas. Setahun yang lalu, Fully Fullwood dan kawan-kawannya di band Tosh Meets Marley sempat melakukan tur konser di Pekan Raya Jakarta (PRJ) dan Bali. Di belakang panggung konser, Tony Q diperkenalkan kepada Fully Fullwood dan kawan-kawan, serta manajer Mark Miller.
Tiba-tiba saja scene reggae di tanah-air heboh melihat kedekatan Tony Q dengan Fully Fullwood yang kemudian berujung bekerjasama membuat sebuah album.

Sekembali Tony Q dari Australia, BATAVIASE NOUVELLES menemuinya di Wapres pada suatu petang. Sambil menyeruput kopi pahit dan menghisap rokok kretek dengan diselingi senda gurau, lagi-lagi Tony Q bersemangat menjawab BATAVIASE.

Bagaimana Anda bisa dekat dengan Fully Fullwood lalu bekerjasama membuat sebuah album. Apa ini sebuah kebetulan?
Ya, awalnya memang panitia konser memperkenalkan gue dengan Fully Fullwood. Bagi gue ini seperti mimpi besar. Bisa bernyanyi satu panggung dengan musisi reggae legendaris. Bayangkan, dia bilang,’Reggae lahir di dekat rumah saya.’
Lalu dia cerita tentang Bob Marley yang dulunya masih anak bawang… Wah, orang ini nggak sembarangan. Beberapa lagu Bob Marley kan dia ikut menulis, seperti Mr. Brown, Sun is Shining… Wah, luarbiasa!
Lalu panitia menyiapkan keberangkatan gue ke Bali untuk jam-session dengan band Tosh Meets Marley. Nah, ketika di Bali, ini seperti sebuah kebetulan… Setelah konser selesai, manajer band Mark Miller dan Fully serta para musisi ingin jalan-jalan melihat panorama Bali. Ketika itu panitia kabur entah ke mana, sehingga gue dan seorang sopir menemani mereka pergi ke Tanah Lot.
Bayangkan, dalam mobil cuma gue dan sopir doang orang Indonesia yang mengantar musisi reggae dunia, ada yang datang dari California, Swiss, Kanada. Jadi, walau pun satu band tapi mereka tinggal di negara yang berbeda. Selama perjalanan kita semakin akrab, karena gue membantu motret dan ngejelasin tentang pura Tanah Lot. Mereka sangat senang sekali, happy!

Selama bersama mereka, gue nulis lagu Woman yang kata Fully, ’Stag in my head’ dan Mark Miller dapat ide bikin lagu juga, judulnya In The Ghetto, idenya dia dapat ketika melihat orang-orang Jakarta yang bekerja di pagi buta untuk memberi makan keluarga.

Proses rekaman Woman juga terbilang cepat. Kita janjian ketemu di Studio Intro, Kemang, untuk rekaman. Beberapa jam sebelum mereka datang dari Bali, gue udah di studio, karena gue pengen tepat waktu, nggak mau telat. Di studio gue coba-coba bikin bahan dasar musik untuk Woman dengan gitar. Kemudian Fully datang langsung merespon dengan bass, begitu juga dengan yang lain, memainkan keyboard dan perkusi. Fully saja membuat lima versi bas untuk Woman. Semuanya bagus!
Tapi gue harus memilih satu di antaranya.

Anda tadi bilang “Mimpi besar” bernyanyi satu panggung dan bekerjasama dengan Fully Fullwood. Sebenarnya apa sih cita-cita Anda?
Cita-citaku, tampil dalam festival reggae di Jamaika, memperkenalkan reggae Indonesia kepada publik yang lebih luas lagi.

Bagaimana undangan festival reggae internasional selama ini?
Gue nggak bisa datang ke sana… Karena tidak mendapatkan visa dari kedutaan Amerika. Undangan gue terima tidak lama setelah peristiwa tragedi World Trade Center, sebelas september 2001.
Awalnya panitia Bob Marley Festival di Houston, Texas mengundangku untuk tampil sebagai headliners. Tapi gue nggak mau tampil sendiri karena semua lagu gue kan nggak bisa dimainkan sendiri. Di samping itu, gue punya misi untuk memperkenalkan musik reggae Indonesia untuk publik di sana.
Reggae Indonesia kan ada kendang jaipongnya, talempong minang, suling sunda.. ya kayak gitu! Gue ajukan ke panitia bahwa gue baru mau tampil dengan syarat bisa membawa band gue.

Panitia merespon, ‘Tony kamu bisa mencari player yang kamu butuhkan di Amerika, dari kendang sunda, dll…’. Tapi gue tetap bersikeras, gue baru mau tampil dengan musisi Indonesia. Jumlahnya semua 10 pemain. Lama-lama panitia di sana mengerti dengan kebutuhan gue. Kawan-kawan sudah menyiapkan keberangkatan gue untuk festival itu, mereka mau jadi volunteer, dari membuat ‘malam dana’. Gue sangat terharu!
Tapi ketika mengajukan visa untuk sepuluh musisi di Kedutaan Amerika, kita ditolak. Mungkin pemerintah Amrik masih paranoid, setelah tragedi WTC. Kawan-kawan shock, kok sebagai musisi masih juga dicurigai yang kagak-kagak. Lewat e-mail, gue sebar kabar bahwa Kedutaan Amerika tidak memberikan visa kepada musisi Indonesia. Panitia Bob Marley Festival di Houston cukup kaget juga. Seorang akademisi- musikolog dari West Virginia, Prof. Ann membuat petisi yang didukung para musisi dan akademisi Amerika, yang isinya protes keras terhadap pemerintah Amerika agar memberi kesempatan kepada musisi Indonesia untuk tampil pada sebuah festival musik. Petisi itu dikirim ke Gedung Putih, kantornya Presiden Bush.

Selanjutnya, masih ada undangan festival reggae yang datang?
Dari tahun 2003 sampai 2005, gue terus diundang untuk even Legend of Rasta reggae Festival di Houston, Texas. Tapi kan masalahnya, lagi-lagi Kedutaan Amerika di Jakarta tidak memberi visa. Padahal gue banyak mendapat dukungan, baik moril maupun materiil. Promotor Adri Subono dari Java Musikindo, secara pribadi mau ngasih uang puluhan juta kalau gue jadi berangkat. Tapi kenyataannya semua mentok karena nggak dikasih visa. Gue udah usaha, bekerja… Ya, gue sumeleh saja!

Sejak tahun 2004, setiap ada undangan festival reggae internasional, gue mulai cuekin. Tapi orang Amerika memberi dukungan. Mareka tahu lagu gue kan diputar di festival, tapi bertanya-tanya kok orangnya nggak pernah nongol.
Ada orang Amerika yang bekerja sebagai instruktur pada sebuah perusahaan minyak di Houston selalu berhubungan dengan kita lewat e-mail. Beberapa bulan menjelang festival reggae diselenggarakan, dia selalu siap membantu, dari membelikan tiket dan akomodasi. Suatu kali dia menitipkan uang lewat muridnya dari Indonesia, dia orang Batak, yang kebingungan kok ada instruktur perminyakan Amrik punya sahabat musisi reggae dari Indonesia, he..he…he! Lucu juga tuh!

Dari kejadian itu, lama-lama gue baru mengerti, ternyata orang Amerika itu sangat apresiatif dengan musik reggae Indonesia. Prof. Ann, misalnya, selalu memberi gue dorongan terus berkarya. Ketika dia dengar musik gue yang ada elemen musik Sunda, Jawa atau daerah lainnya di Indonesia, dia bilang, itu musikmu enggak ada di Amerika atau Afrika.

Budaya kita kan unik, sejarahnya panjang. Dia akhirnya mengirimkan lagu-laguku kepada Putu Mayo World Record, perusahaan yang berbasis di New York. Satu lagu gue, Pat Gulipat, masuk dalam kompilasi World Reggae berjudul Reggae Playground bersama musisi reggae dunia.
Gue langsung terharu sekaligus bangga, akhirnya musik reggae Indonesia diakui secara internasional.

rasta-tony2.jpg

Tony Q tak pernah menduga lagunya masuk dalam kompilasi Reggae Playground, bersanding dengan Rita Marley, istri Bob Marley dan Judy Mowatt, penyanyi latar The Wailers band Bob Marley, selain itu beberapa musisi yang mengisi album itu antara lain Johny Dread (Kuba), Eric Bibb (Amerika), Alan Schneider (Prancis), Modusta Largo (Maroko), The Burning Soul (Jamaika), Marty Dread (Amerika), Kal Dos Santos (Brasil), Asheba (Trinidad) dan Toot and The Maytals, band lawas dari Jamaika yang melahirkan kosakata “Reggae” ke dunia ini. Seluruh penjualan album ini diperuntukkan pembangunan sekolah taman kanak-kanak di Jamaika. Sebuah program yang bekerjasama dengan Perserikatan Bangsa-bangsa dan Rita Marley Foundation.

Bagaimana Anda melihat perkembangan musik reggae di Indonesia, yang sekarang lagi booming?

Gue selalu mendukung kawan-kawan yang bikin band reggae. Dan selama ini juga gue didukung kawan-kawan. Untuk desain sampul album Anak Kampung, yang bikin Ibnu Hibban, yang sudah menonton band gue sejak dia masih SMP. Sekarang dia sudah sarjana, lulusan jurusan seni rupa Institut Kesenian Jakarta. Cover Anak Kampung adalah skripsi Ibnu, dapat nilai A. Gue kan selalu mendukung sesuatu yang positif, kuncinya asal dikerjakan dengan senang hati semua akan berkembang. Setiap gue ngeband selalu ngajak band-band yang baru untuk jam-sesion. Di musik reggae itu nggak ada jarak, tua-muda saling mendukung. Gue nggak pernah menduga perkembangan reggae di masyarakat seperti sekarang ini, walau media masih memperlakukan seperti anak-tiri, kalau mau dibandingkan dengan musik rock atau pop. Sebagai pelaku reggae, gue akan terus bekerja, berkarya, bikin album…

Ada yang bilang Anda terlalu idealis?
Tolok ukur orang itu apa? Gue sih sederhana saja dalam bermusik. Pertama, harus dilakukan dengan senang hati. Penghasilan gue selama ini dari musik. Gak ada sampingan lain. Kalau gue dulu ngamen di jalanan karena gue melakukan itu dengan senang hati. Kalau gue nyanyi di kafe atau konser di daerah, itu semua gue lakukan dengan senang hati. Banyak juga kan yang mengukur apa yang kita kerjakan dengan berapa uang yang kita dapat… Wah,
itu sih bikin gue tertekan! Gue bikin band, jungkir-balik, terus bubar, karena kawan-kawan dulu nggak punya keyakinan musik reggae bisa diterima pasar. Ukurannya uang! Kalau berkesenian diukur dengan uang dan sukses melulu… yah, kita hidup dalam tekanan. Akhirnya bubar.
Gue sudah puluhan tahun bermusik reggae. Ketika almarhum Imanez masih memainkan karya-karya The Beatles, gue sudah ngereggae. Ketika album reggae dia sukses, gue merasa terpacu untuk berkarya. Iman beruntung karena Potlot mengelola bakat dia. Gue kan berproses dari bawah, dari hidup di jalanan, semua bertahap. Suatu kali gue pernah nyodorin karya gue ke sebuah perusahaan rekaman di Glodok. Tapi syaratnya, album gue akan dirilis tanpa menyertakan vocal gue.
Nama gue tetap dipakai tetapi yang nyanyi orang lain…
Edan! Gue langsung tolak. Begitu gue cerita ke kawankawan, justru gue digasak, dicemooh; ‘kok nggak lu ambil aja itu duit. Kan enak nggak usah capek-capek!’ Gue nggak sependapat! Ini karya gue, dan gue punya kemampuan untuk menyanyikannya. Itu kan suatu keyakinan.
Sekarang terbukti, kawan-kawan yang dulu mencemooh, kebanyakan sudah meninggalkan musik, cari kerja yang tidak ada hubungannya dengan musik. Kalau tetap bermusik, paling hanya memainkan lagu-lagu top-40, tidak berkembang dan penuh dengan tekanan, karena banyak diatur-atur orang dan secara materi gak cukup.
Bermusik itu ekspresi kebebasan. Ya, kita harus merawat kebebasan itu, dengan berkarya, mencari ilmu dan bergaul, mengalir saja… Selama kita memberi dukungan kepada potensi seseorang, pasti ada jalan terbuka untuk kita juga. Ada yang bilang,’wah Tony nyebar virus reggae..’
Padahal kan gue bergaul dengan musisi apa saja, rock, metal, punk… Gue suka pergaulan dan saling memberi apa yang kita tahu. Dulu gue sempat jadi instruktur musik di Wisma Relasi (markas band Steven n’ Coconut Treez).
Dari dalam studio, gue perhatiin ada Steven yang sedang melongok lama dari balik kaca. Dia kan dulu main musik hardcore. Rambutnya panjang belum gimbal.

Keesokan harinya, kita ketemu. Dia minta dibikinin rambutnya dreadlock. Gue bikinin tiga biji. Besoknya dia datang lagi, semua rambutnya sudah digimbal tetapi numpuk jadi satu biji gede banget. Gue rapiin, gue gunting terus dijalin satu-satu, akhirnya jadi kayak sekarang ini. Dia itu sudah ada talent reggaenya. Kalau dengar band hardcorenya, dalam albumnya ada satu lagu reggae. Jadi gue nggak pernah ngasih virus, atau mempengaruhi dia supaya bermusik reggae. Ketika mengerjakan album pertama Coconut Treez, The Other Side, gue dengan teman-teman Rastafara ikut membantu. Bahkan, ketika ada yang datang ke gue, namanya Rival, ingin bermain musik reggae, gue perkenalkan pada Steven. Sampai sekarang dia jadi bassis Coconut Treez. Dalam hati, gue senang sekali melihat mereka sekarang berkembang.

BOLEH dibilang Tony Q Rastafara klotokan dalam bermusik reggae. Hingga kini Tony Q telah melahirkan enam album, yaitu Rambut Gimbal (1996), Gue Falling in Love (1997), Damai dengan Cinta (2000), Kronologi (2003), Salam Damai (2005), dan sebuah album yang dirilis 27 April 2007 bertepatan dengan hari ulang tahunnya, Anak Kampung.

Lirik lagu Anak Kampung adalah sepenggal biografi Tony Q ketika merantau di Jakarta. Pria asal Semarang yang terlahir dengan nama Tony Waluyo Sukmoasih pertama kali hidup di Jakarta bekerja pada PT Singapur-Cakung, sebagai buruh bagian quality control, sebuah pabrik kaleng. Merasa tertekan melihat mesin absensi, ia pindah kerja pada sebuah perusahaan yang bergerak di bidang desain periklanan di Sunter. Suatu kali, ia meminta ijin pada sang bos untuk diperkenankan kuliah seni rupa di Institut Kesenian Jakarta. Tapi si bos tak memberi ijin, justru memberinya setumpuk pekerjaan di percetakan. “Saya marah. Sesuai kontrak kerja kan saya sebagai desainer, hanya menggambar, kok diberi tugas di percetakan. Saya keluar!” sergahnya.

Akhirnya, ia berlabuh di Pasar Kaget Blok-M, hidup secara bohemian dengan mengamen. Ia merasa senang, bebas dan nyaman. “Orangtua saya begitu prihatin mendengar cerita orang-orang bahwa saya ngamen… Padahal saya bahagia dengan cara hidup seperti itu. Banyak teman, makan-tidur-ngamen… hari-hari yang bebas. Ngitung duit jam empat pagi di Hoya. Dapat uang beli senar gitar atau beli buku dan alat-alat lukis,” tutur Tony Q. yang pada masa itu banyak belajar dari musisi jalanan, Anto Baret dan lingkar pergaulan seniman Bulungan. Baginya, rasa was-was orangtua adalah wajar, justru mendorongnya untuk lebih berprestasi.

Perjalanan bermusik Tony Q memang terasah lewat mengamen lalu tampil di kafe-kafe di bilangan Blok-M. “Saya bersyukur ada yang memberi kepercayaan untuk tampil. Selain untuk dapur supaya tetap ngebul, sekaligus bisa bergaul dengan segala kalangan. Saya banyak belajar di sana,” tukasnya serius. Kini secara berkala Tony Q tampil di BB’s sebuah bar di bilangan Menteng setiap jumat dan sabtu malam. Di sana kerapkali band-band reggae seperti Steven n’ Coconut Treez, Gangsta Rasta, dan kadang band reggae dari Yogya, Shaggy Dog tampil menyemarakkan suasana.Tony Q kadang menyanyikan lagu-lagu Bob Marley diringi permainan gitar yang ciamik dari seorang bocah. Pada acara Reggae Gathering, peluncuran album Salam Damai, Tony Q melakukan kolaborasi dengan puluhan anak-anak yang memainkan jimbe. Mereka adalah anak-anak yang tinggal di pinggir kali Ciliwung tergabung dalam Sanggar Akar yang dibina oleh Hendrikus pemain perkusi/kendang band Rastafara.

Unsur musik-musik tradisional Indonesia begitu kental dalam lagu-lagu Tony Q Rastafara seperti Paris van Java berlirik bahasa Sunda, Ngayogyakarta berbahasa Jawa, dan Pesta Pantai yang memadukan musik talempong Minang. Perpaduan musik-musik tradisonal Indonesia yang dijelajahi Tony Q Rastafara memikat banyak mahasiswa jurusan musik untuk melakukan penelitian. Obie, mahasiswa jurusan musik Institut Seni Indonesia Jogjakarta telah membuat skripsi dari lagu-lagu Tony Q, dengan nilai A.

Pada April setahun yang lampau, dalam diskusi tentang musik reggae di Universitas Paramadina, seorang mahasiswa bertanya, “Bagaimana musik reggae bisa mengusung ide revolusioner kalau hanya bermain untuk kalangan atas?”

Sebagai pembicara Tony Q memberi penjelasan berdasarkan pengalaman selama hidup di jalanan. Musik reggae, katanya, lahir dari kalangan bawah yang tertindas dan terpinggirkan. Reggae merupakan musik perlawanan terhadap sistem penindasan. Lirik lagu yang dibuatnya adalah cerminan kenyataan hidup di Indonesia. Pat Gulipat menggambarkan bagaimana kawan makan kawan, atau kehidupan politik dan ekonomi kita yang sakit, saling menilap. Kalau lagu reggae yang berasal dari reality itu didengar kalangan atas di bar atau kafe, kata Tony Q, itu adalah bagian dari proses transformasi. Agar kalangan atas menyadari sisi kehidupan yang lain di kalangan bawah dan menengah.

Adalah sebuah kenyataan pula, kalangan atas Jakarta kini ramai mendatangi gig reggae seperti yang digelar di Citos-Cilandak Town Square, Colours, News Cafe dan bar-bar lainnya.

PERJALANAN Tony Q dalam bermusik dimulai bersama kawan-kawannya ketika mendirikan band bernama Roots Rock Reggae pada 1989. Namun sayang, band itu tak sempat berlangsung lama, karena kawan-kawannya merasa tidak yakin kalau reggae bisa dipasarkan di tengah masyarakat, hingga bubar paruh 1990. Tahun 1990 Tony Q memndirikan band kembali dengan nama Exodus, namun bubar pada `1992. Kemudian Rastaman, 1992-1994. Terakhir pada 1994 ia mendirikan band Rastafara, hingga bubar tahun 2000. Kini dia lebih memilih berjalan sendiri bersama para additional players-nya.

Semua nama band yang didirikannya mengambil judul lagu Bob Marley. Seperti umumnya pecinta musik reggae, perjalanan musik Tony Q terinspirasi dari perjalanan panjang Bob Marley baik dalam bermusik, juga keterlibatan sosial-politiknya. Di sampul belakang buku yang ditulis Helmi Y. Haska, Bob Marley: Rasta, Reggae, Revolusi (Kepak Book, 2005), Tony Q memberi komentar,”Selama ini gue memperjuangkan pikiran-pikiran Bob Marley. Marley buat gue adalah guru. Gue salut! Bob Marley memperjuangkan manusia supaya bangkit dari mental budak, mental slavery! Kondisinya mirip-mirip di sini. Gue teruskan perjuangan dia dengan musik reggae di bumi tercinta ini: Indonesia!”.

Berjuang, adalah kata kunci yang sering diucapkan Tony Q. Dan untuk menjadi reggaeman cobalah simak penggalan lagu Reggae berikut ini:
Reggae nggak harus gimbal
Gimbal nggak harus reggae
Reggae nggak harus beganjo
Reggae musik yang pecinta damai ..

* Salam Damai selalu dari petir *

Contact for Scooterist Indonesia ..

IWAN IVI DKI JAKARTA
081382615599, 0817845023
iwanvespa@yahoo.co.id atau iwanivi@gmail.com
Bravo VESPAMANIA

BULAN OWNERS SCOOTER (BOS) MEDAN
e-mail : bulan_owners_scooter@yahoo.co.id
Contact Person : Ocy [181/00596/IVI]
Mobile Phone : +6261- 77401976
Sekretariat : Jalan Djamin Ginting 896 A Medan 20156 Sumatera Utara
I n d o n e s i a

nanto_sl@yahoo.com
SFC ( Scooter Fan’s Club ) Cijantung
Sekretariat ;Jalan Raya Gongseng no 16 , Cijantung ,Jakarta Timur

W.Budi.S “pakguru”
Pengurus Scooter Club Depok
Anggota IVI No.107
Email: budi_mayo@yahoo.co.id

Babon VTC 007
Vespa Touring Club Cimahi - Jabar
bond_vtc@yahoo.com
vtc_cimahi@yahoo.com
http://vtccmi.multiply.com
http://www.friendster.com/bondscuger[/quote]

CLUB SCOOTER DAN VESPA DI MAKASSAR & PALU...

MAKASSAR...
1 ANDI CAMMI SCOOTER CLUB SCOOTER
2 ANSWER ( LUWU ) SCOOTER
3 ARUNG PALLAKA SCOOTER SCOOTER
4 BARRU ALTERNATIF SCOOTER CLUB SCOOTER
5 BARRU SCOOTER FAMILY SCOOTER
6 BHARUDAK GEMBEL INDEPENDENT SCOOTER SCOOTER
7 BLACK HORSE SCOOTER CLUB SCOOTER
8 BONTAING BUTTA TOA SCOOTER SCOOTER
9 BOST ( BHONTANK SCOOTER TEAM ) SCOOTER
10 BROTHER SCOOTER SCOOTER
11 BULUKUMBA SCOOTER CLUB SCOOTER
12 BUNGORO VESPA CLUB VESPA
13 BUTTERFLY SCOOTER CLUB SCOOTER
14 GOWA SCOOTER CLUB SCOOTER
15 KOTA KALONG SCOOTER CLUB SCOOTER
16 LASINRANG SCOOTER CLUB SCOOTER
17 LOSARI PX CLUB GOWA SCOOTER
18 LOSARI VESPA CLUB VESPA
19 MAKASSAR ART SCOOTER SCOOTER
20 MAKASSAR INDIPENDENT SCOOTER SCOOTER
21 MAKASSAR SCOOTER CLUB SCOOTER
22 MAKASSAR VESPA CLUB VESPA
23 MAKASSAR VESPA CLUB 777 VESPA
24 OLD CLASSIC SCOOTER MAKASSAR SCOOTER
25 PANGKEP SCOOTER CLUB SCOOTER
26 PIAGGIO ADVENTURE FAMILY VESPA
27 PINRANG INDEPENDENT SCOOTER SCOOTER
28 SAWITO SCOOTER CLUB SCOOTER
29 SCOOTER ADVENTURE TEAM ( SCAT ) SCOOTER
30 SCOOTER CLASIC FAMILY ( SKF ) SCOOTER
31 SCOOTER COMMUNITY OF SAWERI GADING SCOOTER
32 SCOOTER MERAH PUTIH SCOOTER
33 SCOOTER OTOMOTIF CLUB TAKALAR SCOOTER
34 SCOOTER OWNERS GROUP MAKASSAR SCOOTER
35 SEGERI MANIAC SCOOTER ( SMS ) SCOOTER
36 SINJAI VESPA CLUB ( SVC ) 898 VESPA
37 TANETE SCOOTER CLUB SCOOTER
38 VESPA INDEPENDENT PANGKEP VESPA
39 VESPA MAKASSAR CLUB VESPA
40 VESPA OTOMOTIF CELEBES VESPA
41 VESPA OTOMOTIF CLUB VESPA

PALU...
1 B.A.S.I.C SCOOTER
2 BUMI SARANA UTAMA CLUB SCOOTER
3 EBONY SCOOTER CLUB SCOOTER
4 PALOLO SCOOTER CLUB SCOOTER
5 PALU INDEPENDENT SCOOTER
6. SOLIDARITY SCOOTER
7 PALU VESPA CLUB SCOOTER
8 PARIGI SCOOTER CLUB SCOOTER
9 TADULAKO MOTOR CLUB SCOOTER
10 TORAJA INDEPENDENT SCOOTER
11 COMMUNITY SCOOTER

Scooter/Vespa Club yang ingin kontak dengan kami silahkan email ke : petirbotax@yahoo.com atau http://profiles.friendster.com/60550227 atau www. sog-indonesia.org

contact person 021.95554983 (petir)

Kirim biodata club dan alamat jelas (email/ contact person) we wait 4 you all brothers!!

Minggu, 01 Maret 2009

Vespa kini makin Bertenaga ..... ma yuussss !!!

nmwnxxj72m1
PONTEDERA - Apa yang Anda tangkap ketika mendengar nama Vespa? Skuter imut yang asik dibawa jalan sore-sore? Kini tidak lagi. Piaggio berencana memproduksi Vespa dengan kapasitas mesin terbesar.

Ya, namanya GTS 300 Super. Vespa ini menggantikan model sebelumnya, GTS 250. Kapasitas mesin kini melonjak menjadi 278 cc 4 langkah SOHC.

Tenaga yang keluar diklaim mampu menembus angka 22 hp dan torsi maksimumnya sebesar 16,5 lb-ft. Vespa GTS 250 dikenal dengan kemampuan dan kenyamanannya yang tinggi di kelas skuter matik. Karena itu, GTS 300 Super dijanjikan akan memiliki impresi yang sama dengan saudaranya.

Dan untuk lebih menunjang stabilitas mengemudi, motor ini dibekali pelek 12 inci, cukup besar jika melihat produk-produk Vespa sebelumnya. Pelek ini dipadu dengan ban ukuran 120/70-12 di depan, dan 130/70-12 untuk ban belakang.

Demi menyumbang kenyamanan berlebih, GTS 300 Super menggunakan single arm dengan dual chamber hydraulic shock di depan dan dual shock adjustable pada suspensi belakang.

Perubahan yang paling kentara terlihat dari sisi penampilan. Skuter matik Vespa ini lis-lis bodinya beraksen krom, kontras dengan sekujur tubuhnya yang dibalut warna Shiny Black. Kesan centil makin kental dengan paduan suspensi yang sengaja dilebur warna merah. Apalagi peleknya juga paduan warna krom dan hitam. Makin cantik.

Selain itu dibawah jok skuter ini juga dilangkapi bagasi penyimpanan barang. “Setidaknya satu helm full-face sanggup diletakkan ditempat itu,” ujar PR Vespa, sebagaimana dikutip dari Motorcycle-usa.

Demi menyajikan sensasi mengendara yang bertenaga sekaligus nyaman, Vespa membanderol GTS 300 Super seharga USD6.199 (Rp68,5 juta). Tentunya harga segitu hanya untuk pasar di Italia. Jika Anda yang berada di Tanah Air berniat memboyong motor mungil ini, sebaiknya sediakan dana dua kali lipat, karena pasti harganya akan melambung setibanya disini.

Event - event di Awal tahun 2009

Gebyar Scooter Mania

Tasikmalaya 2th COMFAS (Community Fans Scooter) Tasikmalaya

Tanggal 24-25 Januari2009

Lokasi Alun-alun Ciawi Kab. Tasikmalaya

Acara dan Hiburan

Live Music - Dangdut - Reggae - Band Contest Scooter - Classic Original - Extreme DoorPrize 1 Unit Vespa dan Hadiah hiburan lainnya

Contact Person : Budi Achong- VFC (Vespa Freedom Club) 085223936788 Apep- SLI (Scooter Long Independent) 081809205695 Ebox- IPASCO (Ikatan Pengendara Scooter) Jakarta

13tahun Anniversary SOG Garut Chapter

event-sog-garut1

Scooter Fun Offroad
leles, 6-7 Februari 2008
Contact Person Chris (08122336943), Agung (081323729414), Dudung (081802235140)

Info lengkap www.SOG - INDONESIA . org

Inspired by Petir *



persaudaraan belumlah merdeka
60 Tahun lebih sudah Indonesia Merdeka, tetapi kemerdekaan itu masih teramat jauh dirasakan oleh kalangan biker di tanah air, kemerdekaan dari rasa persaudaraan, kemerdekaan dari rasa peduli terhadap sesama.
Brotherhood! Sebuah kata yang penuh arti bagi kalangan biker Indonesia. Hampir seluruh lapisan klub atau komunitas motor di Indonesia memahami arti dari Brotherhood.
Dalam pengertiannya, Brother adalah saudara pria yang lahir dari Ibu yang sama atau sekandung. Dan apabila dikaitkan dengan slogan Bahasa Inggris. Brotherhood mengartikan persaudaraan pada keseharian kita.
Bagaimana seharusnya kita dapat bersikap dan memperlakukan setiap individu baik itu pria atau wanita, khalayaknya kita memperlakukan individu-individu tersebut sama seperti saudara tanpa membedakan status, suku dan agama. Karena bagaimanapun manusia adalah mahluk sosial yang saling hidup berdampingan dan saling bergantung satu dengan yang lain.
Brotherhood tidak memandang jenis dan keadaan seseorang, tetapi lebih mementingkan hak dari seseorang, seperti kejadian yang dialami oleh saudara-saudara kita yang tertimpa musibah bencana alam.
Sampai saat ini makna Brotherhood masih teramat jauh dari arti yang sesungguhnya. Sehingga Brotherhood terkadang menimbulkan citra ekslusif antara klub atau komunitas. Perbedaan-perbedaan prinsiplah yang menjadikan jarak pemisah persaudaraan didalam suatu klub atau komunitas.
Inti dari Brotherhood itu adalah persaudaraan sejati.
Persaudaraan yang tanpa mengenal batas antara klub atau komunitas.
Brotherhood dapat dijadikan symbol kekuatan pemersatu biker di Indonesia. Seperti para pejuang kemerdekaan yang berjuang mempertahankan tanah air tercinta. Brotherhood adalah spirit atau semangat biker Indonesia untuk terus maju dan berkembang sampai sekarang ini. Terbukti dengan semakin banyaknya bermunculan klub atau komunitas motor baru di Indonesia.
Sangat disayangkan jika rasa persaudaraan dinodai hanya karena ego dan kepentingan semata. Sungguh berat memahami arti sesungguhnya Brotherhood. Yang terpenting adalah Brotherhood dapat dirasakan dan dimulai didalam diri kita masing-masing, kemana arah tujuan dan pencapaian arti Brotherhood yang sesungguhnya.
Sesungguhnya persaudaraan itu sangatlah indah. Bersama Scooter persaudaraan serasa tanpa batas!....... Merdeka !!

Info lengkap : www.sog-indonesia.org

DOA NASIONAL VESPA MANIA
Untuk Kedamaian dan Keselamatan Bangsa Indonesia 2009

seleba102

8th Anniversary SOG Palembang Chapter

7-8 maret 2009
Benteng Kuto Besak, Palembang
- Scooter Contest
- Modern Dancer Competition
- Sexy Dancer
- Sexy Scooter and Bike Wash
- Live Music

palembag
Contact Person
Rio 081377955220, Fery 0816357771, Sonboy 081632265234.

Magelang Menjadi Lautan VESPA di JSR 3 ...


adfa

Magelang - Sudah selama seminggu puluhan ribu penggemar sepeda motor jenis vespa atau scootermania, tumpah ruah di Lapangan dr H Sunardi, Kecamatan Mungkid, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Kedatangan mereka untuk mengikuti acara Java Scooterss Rendesvous 3(JSR-red).

panggung
Dari mulai vespa keluaran pertama hingga terbaru bisa ditemui dalam acara itu. Bahkan banyak juga besi tua yang kumuh itu dibuat ceper dengan setang menjulang tinggi dan berbagai aksesoris menempel di bodinya. Benar-benar berantakan dan tak seperti bentuk aslinya tapi itulah keunikannya dan menjadikan penggemarnya benar-benar fanatic

Pertemuan tahunan scooteris se-Indonesia tahun ini Jateng tampil sebagai tuan rumah dan ditunjuklah Magelang sebagai tempat digelarnya acara. Ketua Panitia, Sukoco mengatakan pertemuan scooteris ini sedianya hanya untuk wilayah Jawa dan Madura. Namun, respon para scooteris seluruh nusantara ternyata luar biasa.

”Banyak peserta yang datang dari luar Jawa-Madura. Tak kurang dari 21.000 scooteris berkumpul. Mereka yang berasal dari Pulau Jawa, hampir semua
Kabupaten dan Kota terwakili,”katanya.

“Magelang dipilih sebagai tempat kontes untuk ketiga kalinya sesuai dengan
keputusan rapat bersama yang diadakan pada JSR yang kedua di Jakarta. Dalam kegiatan acara selama dua hari ini, kami mengadakan berbagai acara diantaranya bhakti sosial, donor darah, serta lomba atau kontes vespa dari
para peserta,” ujar Koordinator JSR Sukoco.

Hal itu dikatakan Sukoco kepada penulis di sela-sela acara, Minggu (14/12/2008). JSR kali ini adalah putaran ketiga, setelah putaran sebelumnya diadakan di Banjar Patroman, Jawa Barat dan TMII di Jakarta.

Kontes vespa yang diadakan JSR kali ini, terbagi dalam enam kategori. Yakni kategori modifikasi ektrims-standart original, kategori sespan, kategori touring, kategori air brush, kategori retro classic dan kategori original.

Selain diikuti oleh pencinta vespa dalam negeri, acara JSR kali ini juga diikuti oleh peserta dari luar negeri seperti Malaysia dan Jerman.belanda.

Acaranya ajiibbbb brrooooooo... yg ga dateng pokonya rugi..gi..gi..giiiiiii...